Ekspresi 1/3 Malam Terakhir

Dia tertidur membelakangiku. Menghadap ke tembok. Kaki dan tangannya memeluk bantal guling. Meringkuk. Sesekali menggeliat dengan mulut komat kamit. Menggaruk leher dan rambutnya, kemudian terdiam. Penerangan dikamar ini sepertinya tidak mengganggu aktivitasnya merajut mimpi.

Mukanya polos, innocent, menggemaskan. Berbanding terbalik ketika Ia terjaga. Seorang introvert garis keras. Berpendirian kuat. Dengan segudang permasalahan kehidupan. Dia tidak pernah demam panggung. Terus tampil dengan atau tanpa narasi. Semua yang tak terduga tak pernah membuatnya lari dari panggung perhelatan sang pencipta.

Tanpa kusadari air mataku terjatuh. Dia hebat. Dibalik wajah polosnya dia adalah seorang lakon sandiwara yang baik, siapa sangka???
Tak kuasa menahan gejolak dijiwa, akhirnya aku mendekatinya. Perlahan aku mengusap rambutnya. Mencium keningnya dengan hati-hati menjaga agar dia tidak terbangun. Seketika dia melengus, tetapi mata tetap terpejam. Aku tersenyum melihat respon alam bawah sadarnya.

Sekarang dia pindah posisi , terlentang. Kini aku bisa lebih jelas memandang ekspresinya di sepertiga malam terakhir ini. Tangan diangkat melingkar diatas kepala dengan kedua ketiaknya yang terbuka. Kedua kakinya dibuka lebar. Kaki kirinya sedikit ditekuk kedalam. Masih dengan guling yang dibiarkan terapit diselangkangan. Wajahnya manis. Sempurna. Sepertinya Tuhan sedang memiliki mood yang sangat baik ketika menciptakan Sunny. Yah…aku menyebutnya Sunny. Seseorang yang sedang tertidur dihadapkanku.

Sinar wajahnya memudar, kusut. Aku tahu dia kelelahan. Matanya terus terpejam, kantung matanya membengkak lengkap dengan warna kehitaman melingkar dibawah kelopak mata bagian bawah. Udara panas kamarku membuat tubuhnya sedikit berkeringat. Sesekali nafasnya tersedat.

“Semoga keberuntungan selalu berpihak padamu. Semoga kerja kerasmu tak pernah sia-sia. Semoga selalu diberi kesehatan. Semoga bahagia dengan jalan kehidupan yang kamu pilih. Dan semoga kamu tidak pernah melupakan aku”. Doaku dalam hati sebelum akhirnya kembali dengan buku dan leptop di hadapanku.

Leave a Comment

%d bloggers like this: