Skenario Alpukat

Suatu hari, ayah pulang ke rumah dengan membawa dua plastik hitam ditangan. Aku raih kedua kantong plastik dari tangan ayah dan membawanya ke ruang makan. Aku berharap akan menemukan sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang enak di makan. Ternyata dugaanku benar, baru membuka simpul ganda dari pegangan plastik, isi didalamnya sudah bisa ditebak. “Wah..alpukaaattt!!! gede-gede banget! Ibu..Ayah bawa alpukat nih, aku suka..aku suka!”, teriakku kegirangan.

“Wah..Bu..bagus banget aplukatnya, bersih..warnanya kuning..dagingnya tebal”, kataku keheranan. “kulitnya juga tipis Bu, teksturnya kayak mentega, ini pasti enak banget!” lanjutku.

***

Beberapa bulan kemudian, aku melihat ada tanaman aneh di sela-sela pot bunga. “Bu..itu tanaman apa? memangnya ada ya bunga yang bentuknya seperti itu?” Tanyaku pada ibu. “Oh..itu bibit alpukat yang tumbuh dari biji yang ibu taruh Ge, ternyata dia tumbuh”, Jawab ibu sembari mendekati pot bunga yang aku pegang.Ternyata ibu menyemai biji alpukat yang enak itu.

“Sebentar Ge, ibu kebelakang ambil pisau”

“Buat apa bu??? wah..jangan di tebang, biar dia hidup”
“Enggak lah..ibu mau memindahkan alpukat itu ke kebun belakang rumah, biar dia mempunyai space yang lebih luas untuk tumbuh”, jelas ibu.

Aku menuruti saja apa yang ibu katakan. Kemudian ibu dan aku membawa bibit alpukat itu dan menanamnya di kebun belakang. Memberinya pupuk, berharap suatu saat nanti bibit pohon alpukat ini akan menghasilkan alpukat yang luar biasa enak. seperti yang kemarin ayah bawa.

***

Hari demi hari, secara bergantian ayah dan ibu merawat pohon alpukat yang mulai meninggi. Terkadang memberi pupuk, menebang ranting-ranting yang mati, menyiramnya jika musim kemarau tiba. Namun, sudah bertahun-tahun alpukat itu tak juga berbuah. Beberapa kali cabang pohon yang tumbuh kearah atap rumah ayah tebang. Tidak ada buah, yang ada hanya serangan ribuan ulat yang hanya dalam satu malam bisa menghabiskan seluruh daun yang ada di pohon alpukat tersebut.

Kami mulai putus asa. Beberapa kali hendak menebang pohon tersebut karena ulat sering masuk kerumah. Namun urung dilakukan. Pohon alpukat itu tak lagi kami rawat seperti dahulu. Kami membiarkan dia tumbuh dengan sendirinya. Tak pernah ada pupuk, air, atau ranting-ranting mati yang ditebang. Pohon alpukat itu benar-benar luput dari pandangan.

Lalu kami disibukkan dengan pohon sirsak yang tumbuh disamping rumah. Perawatan pohon Sirsak lebih praktis daripada pohon alpukat. Yang jelas tidak ada ulat yang menyerang. Ternyata pohon sirsak ini juga lebih cepat berbuah. Beberapa kali kami memanen buahnya. Memang tidak beitu manis, tapi kami senang karena itu hasil dari kebun sendiri.

Hingga pada suatu hari alpukat itu berbunga. Setelah hampir 10 tahun lamanya alpukat itu berbuah untuk pertama kalinya. Kami senang melihatnya, namun sudah tidak begitu antusias seperti sebelumnya. Di kebun kami, sudah banyak buah yang tumbuh dan berbuah, Sirsak salah satunya. Mungkin karena kehadiran sirsak, Alpukat yang berbuah tak lagi menjadi hal yang luar biasa bagi kami. Atau mungkin karena kami terlalu capek dan bosan menunggu. Tapi kami tetap senang. Kami hanya menyaksikan dan sesekali menengok sudah sebesar apa alpukat muda yang dihasilkan. Masih tidak ada perawatan apapun, alpukat itu berbuah tanpa kami.

***

Beberapa minggu kemudian, alpukat itu mulai menua. Berbuah lumayan banyak. Lalu tiba-tiba datang seorang pria paruh baya membunyikan bel rumah. Kami tidak mengenalinya sama sekali. Ayah mempersilahkan pria asing itu masuk. Kemudian pria itu memperkenalkan diri.

“Selamat siang pak, saya X, kebetulan saya sedang berkeliling kampung ini dan melihat pohon alpukat yang bapak punya. Saya berniat untuk membelinya pak”, Terang pak X.

“Wah..pak X ini sebenarnya siapa ya? kok tahu kami punya pohon alpukat? padahal pohonnya ada dikebun belakang loh. lumayan tersembunyi”, tanya ayah heran.

“Hahahah..insting saja pak, kebetulan saya penjual buah dari kempung sebelah, gimana Pak dengan tawaran saya?”

“Oohh….memangnya Pak X mau menawar berapa?”

“1,5 juta ya pak..itu alpukatnya sudah tua, tinggal dipanen. Nanti saya sisakan beberapa untuk bapak”

Sejenak ayah terlihat berfikir. Dia menatap ke arah ibu kemudian aku. Sebenarnya itu tawaran yang menggiurkan. Merelakan alpukat itu dipanen orang lain. Kita tidak perlu khawatir karena masih memiliki sirsak yang bisa dipanen berikutnya. Toh..nantinya juga alpukat itu akan berbuah lagi, kalo dia tidak mati tentunya.

Namun tiba-tiba..

“Tidak pak..saya tidak bisa menerima tawaran bapak”, suara ayah memecah keheningan.

“Loh..kenapa Pak? atau mau saya naikkan lagi nominalnya?”, bujuk Pak X.

“Bukan masalah nominal pak…sebenarnya itu alpukat sudah lama kami tanam. Kami rawat. Dengan harapan suatu hari nanti akan menghasilkan buah yang enak. Namun..entah kenapa, alpukat itu baru berbuah sekarang. Kami kira selamanya alpukat itu tidak akan berbuah. Namun sekarang..kami menyaksikan alpukat itu berbuah meski kami berhenti merawatnya. Jadi..biarlah kami yang menikmati buahnya untuk pertama kali pak. Kami sudah menunggu lama untuk ini.” jelas Ayah panjang lebar.

Aku terkejut Ayah menolak tawaran dari pak X. Dia tetap mempertahankan alpukat meski sirsak, rambutan, jambu juga pisang ada di kebun kami. Ayah ingin merasakan hasil dia merawat alpukat beberapa tahun lalu. Karena mungkin saja tanpa pupuk dari ayah, alpukat itu sudah mati.

Aku berlari kebalakang rumah. Memandang pohon alpukat yang kini berbuah lebat. Dalam hati aku bertanya, “Jika alpukat mempunyai perasaan, apakah dia rela memberikan buahnya kepada orang lain? bahkan orang yang baru dia kenal, bukan orang yang merawat dan mengharapkan dia tumbuh untuk pertama kali. Meskipun ya..jika itu harus terjadi, sebenarnya diapun bisa bermanfaat untuk si penjual buah tersebut”. Ah…kenapa aku jadi berfikiran seperti itu? tentu saja semua itu tergantung pada kami. Jika kami merelakan alpukat itu jatuh ketangan orang lain, ya sudah….si penjual buah itu yang akan menikmati hasilnya. Kami? pasti akan memperoleh penggantinya. Lalu, kamu memilih skenario yang mana? (gsvtr)

One Reply to “Skenario Alpukat”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *