Gesavitri

Terlahir sebagai seorang perempuan bernama lengkap Aprilia Gita Savitri, namun belakangan setelah menjalani berbagai macam ritual mandi kembang dan pertimbangan dia memilih Gesavitri menjadi nama sapaannya.

Sejak kecil kehidupan sulung dari dua bersaudara ini selalu dikelilingi oleh banyak laki-laki. Ya..dia adalah cucu perempuan satu-satunya di keluarga besar Humam Soekarjo. Dimana usia antara cucu yang satu dengan yang lain tidak terpaut jauh.

Bertahun-tahun tinggal satu atap dengan para lelaki, mau tak mau hal itu mempengaruhi tingkah laku dan kebiasaannya. Masa kecil Gesavitri dihabiskan untuk bermain layang-layang, bermain ketapel, yoyo, mencari burung, bermain kelereng, mandi di kali, dan aktivitas lain yang identik dengan permainan bocah laki-laki. Nyaris tak mengenal apa itu boneka, barbie, bando, dan mainan lain yang berbau perempuan.

Didikan dari kedua orang tua yang cukup keras serasa menjadi pemantik hormon testosteron yang ada dalam dirinya semakin berkembang pesat. Entah disengaja atau tidak, seolah kedua orangtuanya-pun mengamini tingkah laku anak perempuannya yang kelaki-lakian. Jarang sekali mereka membelikan baju dan aksesoris perempuan. Masih teringat jelas dibenak Gesavitri bahwa dia hanya mempunyai 4 potong rok dan dua diantaranya pemberian dari Bulik yang menginginkan anak perempuan.

Menginjak remaja, Gesavitri mengalami masa-masa disorientasi diri. Dia merasa bahwa menjadi seorang laki-laki lebih menyenangkan ketimbang menjadi seorang perempuan. Dia mencium bau-bau ketidakadilan terhadap kaumnya. Menjadi seorang perempuan membuat dia dipandang lemah, dan sebelah mata. Dia merasa tidak aman ketika berjalan sendirian di malam hari. Baginya, laki-laki memiliki kebebasan yang lebih luas tanpa terikat aturan, norma dan adat istiadat. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menjalani hidup sebagai setengah laki-laki.

Banyak hal yang dia temui semasa perjalanan pencarian jati dirinya itu. Membuatnya jatuh, bangun, tersungkur, berdiri, dan berlari. Banyak pelajaran berharga yang membuat dirinya lebih bersyukur atas kehidupannya, atas apa yang ia miliki pada saat itu.

Setelah berbagai hal dia alami, kini Gesavitri asik menjalani kehidupan barunya sebagai seorang pembelajar. Hari-harinya dihabiskan untuk belajar banyak hal. Belajar menjadi seorang manusia. Belajar menjadi seorang perempuan dimana dirahim dan tangannya kelak akan tumbuh salah satu generasi yang menjadi harapan bangsanya.

Sudah tidak terbersit sedikitpun keinginan untuk menjadi laki-laki. Dia bangga menjadi seorang perempuan, meski dia sadar kegelisahannya mengenai ketidakadilan yang menimpa kaumnya masih dia rasakan hingga saat ini.

Akhirnya, Selamat datang di raga virtual Gesavitri. Perempuan si Upil Singa yang jika disuguhkan segelas kopi dengan sendirinya akan berbicara mengenai dunianya

Salam Upil Singa,