Langit dan Senja

Sudah satu jam lebih, namun tak sepatah katapun dia ucapkan padaku. Tubuhnya tak bergeming,hanya kedua matanya yang sedari tadi terus bergerak kekiri dan kekanan. Wajahnya serius sarat akan makna. Dia begitu asyik dengan dunia yang Ia genggam.

Ini bukan kali pertama bagiku. Dia selalu memintaku menemaninya duduk di tepi pantai menikmati senja. Kenyatannya sekarang aku yang sendiri,mengamati gerak gerinknya dalam diam. Jujur saja, akupun tak tau dan ingin tau dalam dunia seperti apa saat ini Dia berada.

Segerombolan Geleteng pasir mendatangingku. Mereka mencoba menghiburku, merayap ke kakiku, mengajakku bermain petak umpet.Aku sesekali tersenyum melihat kegesitan mereka berlarian di pasir pantai. Masuk dari lubang satu ke lubang lainnya. Sepintas aku teringat kemenakan-kemenakanku dirumah.

Tak lama, Geleteng pasir itupun pergi. Mungkin mereka kecewa karena aku tak benar-benar berusaha menemukan tempat persembunyiannya. Permainan usai, dan aku benar-benar bosan sekarang.

“Langit, sesekali ajaklah Aku ke dalam duniamu!”, teriakku tiba-tiba.

Aku membuyarkan imajinya.Telah kuberanikan diri memecah keheningan senja.

“Ya??”, jawabnya kaget.

Saat ini, matanya beralih menatapku penuh tanya. Jantungku berdebar, tatapannya tajam namun hanyat. Akupun tersenyum, sadar Dia telah kembali bersamaku. nyata disampingku.

“Ajak Aku pergi ke duniamu, Aku ingin melihatnya, Kau lupa? Kau sudah berjanji padaku!”, kataku pelan dengan nada sehalus dan semanja yang aku bisa.

Lelaki tetap saja lelaki, pertahanannya pun goyah. Dia menghela nafas panjang kemudian menutup buku yang sedari tadi Ia baca. Dia meletakkan buku favoritnya kembali kedalam tas.

“Maaf, dari tadi Aku mengacuhkanmu, Aku terlalu asyik dengan buku-buku ini”

“Maaf kau bilang???!!! Aku bahkan hampir gila karena Kau membiarkanku main petak umpet bersama Geleteng pasir!!”, batinku berteriak. Ingin sekali Aku mengatakannya, namun senyumnya memaksaku berkata, “Tidak Langit, aku disini hanya sedikit..bo-san”.

Senyumnya melebar, tangannya kirinya merangkul lehan kiriku sembari berkata,”Kemarilah, sandarkan kepalamu dibahuku, senja sore ini begitu indah, jangan Kau kotori dengan wajahmu yang cemberut, hehehe “.

Akupun tersenyum manja, merajuk, kusandarkan kepalaku dibahunya. Tiba-tiba sore itu terasa semakin hangat. Entah karena senyumnya, atau memang cahaya senja yang membuatnya hangat. “Ah..pasti keduanya”, batinku. (gsvtr)

Leave a Comment

%d bloggers like this: