Rindu yang Angkuh

Didepanku sudah ada 2 batang rokk yang Ia hisap, kali ini yang ketiga. Aku masih menunggunya berbicara. Jemarinya sibuk memainkan d’addario yang baru saja Dia pasang di gitar kesayangannya. Petikan-petikan nadanya tak berirama. Aku tahu, keangkuha adalah sutradara dari peran yang Ia lakoni saat ini. Dalihnya untuk mengacuhkanku.Sejujurnya ada pesan tersirat yang aku dapat. Namun perempuan tetaplah perempuan, keegoisan menutup mulutnya rapat.

Ah..bodo amat!! Aku makin kesal. Kurebahkan badanku membelakanginya. Pikiranku mencoba menangkap logika, “apa ini??? menyebalkan sekali!”.

Sejurus kemudian, petikan gitarnya berhenti. “Yess..Aku lah sang juara, kali ini Dia pasti menyerah dan mengajakku bicara”, batinku jumawa.

Sayangnya, yang terdengar selanjutnya hanyalah pemantik yang menyala. Rokok keempatnya. Oke! Hari ini aumulasi kesalahannya tambah fatal. Kemarahanku memuncak, jikabuka karena rindu Aku pasti sudah beranjak.

Tiba-tiba terdengar alunan nada gitar memecah keheningan. Petikan kunci dari A ke D ke Bm kemudian ke E seketika membungkam kemarahanku. Aku tahu, kunci apa yang sedang dia mainkan. Aku merasa ada kehangatan dalam setiap iramanya. Untuk perempuan yang sedang dalam pelukan, cukup mewakili perasaan yang tak perlu Ia ucapkan.

Aku merasa seperti ada gaya gravitasi yang spontan menarik bibirku untuk tersenyum. Masih terbaring, Aku membalikkan badan kearahnya. Kudapati matanya menatapku tajam, jemarinya masih menari-nari diatas d’addario buatan Amerika itu. Sejurus kemudian Dia tersenyum, mencairkan kebekuan. Kemudian dalam diam kita sama-sama tahu, musim dingin telah berlalu.(gesavitri)

2 thoughts on “Rindu yang Angkuh

Leave a Comment

%d bloggers like this: